Ritual Gunung Kemukus Season II ~ Menuju Puncak (Chapter 11 : Shomad)

Model : Miss widya magdalena


Aneh, ada photo Pak Shomad di antara photo ayahku dan Mang Karta? Pak Shomad tidak pernah bercerita sedikitpun tentang hal ini. Apa mereka bertiga saudara seperguruan? Tapi waktu Pak Shomad menjajal kemampuan silatku, aku tidak melihat kemiripan jurus. Kuda kuda Pak Shomad cenderung melebar dan tegak, has silat pesisir yang mempunyai ruang gerak lebih luas. Berbeda dengan Cimande yang berasal dari pwgunungan, kuda kudanya cenderung rapat dan rendah.

Atau mungkin orang yang berada di photo ini hanya kebetulan mirip dengan Pak Shomad? Orang di photo ini terlihat lebih muda dan warna photo mulai luntur karana dimakan usia.bantahlah, semuanya serba membingungkanku.

Kenapa aku tidak menelpon Bi Narsih mengabarkan ayahku telah mengambil alih posisiku dan juga menanyakan kabar Mang Karta dan Mang Udin. Sekaligus menanyakan masalah photo Pak Shomad.

Aku memencet nomer telpon Bi Narsih yang kuhafal luat kepala dengan menggunakan telpon yang tersembunyi di dalam laci meja rias. Agak lama aku menunggu telpon diangkat.

"Hallo..!" suara dari gagang telpon, suara Bi Narsih. Aku menarik nafas lega karena Bi Narsih yang mengangkatnya.

"Bi, bagaimana keadaan Mang Karta dan Mang Udin?" tanyaku tidak sabar ingin mendengar kabar kondisi dua orang yang waktu aku berangkat ke Solo mereka masih tergolek di RS.

"Kamu ada dimana?". Bi Narsih malah bertanya kepadaku bukannya menjawab pertanyaanku.

"Di Gunung Kemukus, Bi!" jawabku dan mulai menerangkan kenapa aku berada di Gunung Kemukus hingga ahirnya aku harus menyerahkan semua aset Club malam ke ayahku dan juga perihal brankas berisi emas batangan sebanyak 20 buah.

"Hmmmm, sudah Bibi duga ayahmu akan datang dan mengambil alih bisnis Club malam, kita." suara Bi Narsih terdengar pelan. Hampir seperti berbisik. Aku lega Bi Narsih tidak marah dan menyalahkan kecerobohanku memberikan bisnis Club malam kepada ayahku.

"Bi Narsih gak, marah?" tanyaku heran.

"Buat apa marah, uang untuk membangun Club malam adalah uang ayahmu, lalu bisnis dikelola Pak Budi sekaligus yang menanam modal sebesar 50% untuk mengembangkan bisnis hingga kita punya banyak Club malam elite di Jakarta. Untuk sementara kamu menyingkir dulu hingga ada instruksi Bi Narsih. Kamu bisa fokus mengelola kiosmu di pasar." kata Bi Narsih terdengar tenang.

"Mang Karta dan Mang Udin bagaimana, Bi?" Bi Narsih belum menjawab pertanyaanku.

"Mang Karta dan Mang Udin sudah pulang tadi. Kamu besok langsung pulang, kasian istri kamu sedang hamil." kata Bi Narsih terdengar tegas.

"Iya Bi, besok Ujang pulang. Bi Narsih kenal dengan Pak Shomad? Ada photo Ayah, Mang Karta dan Pak Shomad di dalam Brankas." tanyaku penasaran. Tidak ada jawaban dari seberang telpon setelah sekian lama menunggu.

"Hallo, Bi!" aku memanggil Bi Narsih yang masih diam.

"Kamu pulang dulu, nanti Bibi ceritain." Bi Narsih menutup telpon.

Aneh, Bi Narsih tidak mau menjawab pertanyaanku. Aku memencet tombol telpon, menunggu seseorang mengangkat telponku yang sudah terhubung.

"Hallo...,!" suara yang sangat aku kenal mengangkat telponku.

"Lilis, kenapa Lilis ngirim orang buat ngawasin, A Ujang?" tanyaku dengan suara bergetar.

"A Ujang...! Alhamdulillah A Ujang sehat. Iya, maafun Lilis ya, Lilis sengaja ngirim orang buat ngawasin A Ujang, soalanya beberapa hari terahir Lilis sering ngeliat seseorang mengawasi A Ujang. Lilis takut A Ujang celaka." tidak ada nada rasa bersalah di suara Lilis yang terdengar ceria menerima telponku.

Mungkin benar Lilis hanya khawatir dengan keselamatannku, makanya dia mengirim seseorang untuk mengawasiku. Setelah berbasa basi dan juga menanyakan kabar Ningsih yang sudah tidur, aku menutup telpon. Pada saat itulah aku menemukan sebuah amplop yang setelah kubuka isinya ternyata sebuah surat. Surat yang ditujukan ke ayahku.

Kutunggu kamu di Bogor, jangan terus berswmbunyi seperti seorang pengecut. Tanggal xxx kita bertemu di tempat yang biasa.


Ttd
Karta

Siapa yang mengirim surat ini kepada ayahku? Apa benar Mang Karta yang mengirimkannya ke ayahku? Tapi Mang Karta juga menerima surat tantangan yang sama dari ayahku. Apa benar ayah dan Mang Karta diadu domba oleh seseorang. Siapa orang itu.

Aku segera keluar kamar mencari Pak Tris, tentu dia tahu siapa yang mengirim surat ini pada ayahku dan kapan surat ini diterima. Untung Pak Tris ada di ruang tamu bersama 2 orang suruhan Lilis. Mereka asik ngobrol padahal sudah jam 10 malam. Tapi sekarang malam Jum'at Pon, jadi suasana Gunung Kemukus sedang ramai ramainya oleh pengunjung.

"Pak Tris, saya mau bicara sebentar." aku mengajak Pak Tris masuk kamar ayahku. Marni yang mau masuk kamar ayahku mengurungkan niatnya melihat Pak Tris yang mengikutiku.

"Pak Tris tahu siapa yang mengirim surat ini ke ayahku dan kapan kejadiannya?" aku memberikan surat tantangan ke Pak Tris yang membacanya sebentar. Dia lebih tertarik dengan amplop yang berwarna putih polos tanpa perangko. Itu artinya surat ini dikirim langsung oleh seseorang.

"Sekitar dua minggu yang lalu seseorang mengantarkan surat ini ke Kang Gobang." Pak Tris menatapku heran kenapa aku menanyakan hal yang dianggapnya bukan masalah penting.

Pak Tris tiba merobej amplop menjadi dua, aku tidak sempat mencegahnya. Bagaimana bisa Pak Tris merobek amplop surat yang kuanggap sebagai sebuah petunjuk. Belum sempat aku marah, Pak Tris menunjuk sebuah tulisan kecil yang berada di bagian dalam amplop. Aku membacanya. Shomad.

"Ini tulisan Kang Gobang." kata Pak Tris.

"Siapa Shomad?" tanyaku untuk memastikan bahwa Shomad yang dimaksud adalah Pak Shomad paman Anis istriku.

Pak Tris tidak menjawab, dia berjalan menghampiri lemari kecil dan membukanya. Ternyata seperti dugaanku Pak Tris tahu tentang brankas di dalam kamar.

"Kunci kombinasi brankas diambil dari nama Mas Ujang. Kalau boleh saya manggil Mas Jalu saja. Dimulai dari abjad J urutan 10." Pak Tris memutar brankas ke angka 1 lalu ke angko 0.

"Lalu A, urutan abjad 1." kembali Pak Tris memutar ke angka satu.

"Lalu L urutan abjad 11 dan terahir U urutan 15." dan branka terbuka. Ternyata Pak Tris mengetahui semuanya. Pak Tris mengambil photo yang terletak di atas tumpukan emas batangan.

"Sepertinya Mas Jalu sudah bisa membuka brankasnya." Pak Tris tersenyum senang melihat kecerdasanku, mungkin. Pak Tris memperlihatkan photo yang sudah aku lihat, ternyata benar Pak Shomad. Begitu besarkah kepercayaan ayahku ke Pak Tris.

"Semua emas ini untuk Mas Jalu, saya hanya bertugas menjaganya. Apa yang sudah Kang Gobang berikan kepada kami sudah lebih dari pada cukup. Mas Jalu pasti heran, kenapa Kang Gobang begitu percaya ke saya?" tanya Pak Tris tenang, seperti menjawab keherananku.

Ya, rasanya sangat aneh, ayahku lebih mempercayai Pak Tris dari pada keluarganya sendiri. Padahal bisa saja Pak Tris berhianat, apa lagi ada 20 kg emas batangan yang akan membuat seseorang menjadi gelap mata. Lalu apa alasannya ayahku sangat mempercayai Pak Tris?

Tiba tiba Pak Tris membuka celananya dan memperlihatkan kemaluannya. Ternyata dia tidak mempunyai biji peler. Membuatku merinding ngeri melihatnya.

"Saya dikebiri oleh Kang Shomad karena dulu saya menghianatinya dan yang menolong saya adalah Kang Gobang." Pak Tris terlihat marah mengingat kejadian terburuk dalam hidupnya.

"Kenapa Pak Shomad mengkebiri Pak Tris?" tanyaku bergidik ngeri. Membayangkannya saja aku tidak berani.

"Waktu itu saya kerja saya jadi pencuri di Jakarta. Suatu hari saya mencuri di rumah Shomad dan saya tergiur melihat kemolekan tubuh pembantu yang kerja di rumah Shomad, saya memperkosanya dan Shomad mergoki saya. Dia marah besar dan mengkebiri saya saat itu juga. Untung Kang Gobang yang ada di tempat kejadian segera menolong saya, sehingga saya tidak mati kehabisan darah. Kang Gobang membawa saya ke RS. Setelah sembuh Kang Gobang juga yang mengantar saya pulang kampung. Kang Gobang membangun rumah ini dan juga membelikan saya sawah dan ternak untuk bekal hidup." Pak Tris menunduk, tubuhnya bergetar, entah karena takut atau marah.

"Kapan kejadiannya, Pak?" tanyaku berusaha mengusir kengerian yang terbayang olehku.

"21 tahun yang lalu." Pak Tris menarik nafas panjang berusaha mengusir bayang bayang buruk yang menghantuinya seumur hidup.

"Waktu itu Marni masih berumur berapa, Pak?" tanyaku iba dan sekaligus kagum ke Bu Tris yang tetap setia walau suaminya tidak bisa memberikan nafkah batin.

"Marni belum lahir. Usia Marni sekarang baru 19 tahun. Marni anak Kang Gobang." aku seperti mendengar suara petir di siang hari. Apa yang kudengar membuatku sangat terkejut. Wanita yang kusetubuhi ternyata adik kandungku sendiri.

Ini gila, kenapa Pak Tris sengaja mendukungku untuk melakukan ritual sex dengan adikku sendiri. Rasa ibaku berubah menjadi kemarahan yang luar biasa besar sehingga aku tidak mampu bicara.

Keesokan harinya setelah Sholat Jum'at, aku mempercepat rencana kepulanganku ke Bogor. Dua orang suruhan Lilis seperti tidak mau jauh dariku. Mereka seperti dua orang bodyguard yang menjaga keselamatanku dari ancaman bahaya.

Singkat cerita kami tiba di Bogor dengan selamat. Lilis dan Ningsih terlihat sangat bahagia menyambut kedatanganku.

******

"Kenapa Lilis nyuruh orang buat ngawasin, A Ujang?" tanyaku sambil tiduran di kamar Lilis. Walau sebenarnya malam ini bukan jadwal tidur di kamar Lilis. Aku penasaran dengan maksud Lilis menyuruh orang mengikutiku. Makanya setelah Ningsih tidur, aku langsung masuk kamar Lilis dan kebetulan Lilis belum tidur.

"Karena Lilis mencintai A Ujang. Lilis gak mau A Ujang celaka. Lilis gak mau apa yang terjadi dengan A Budi terjadi dengan A Ujang. " Lilis menjawab tenang. Lilis tengkurap sambil menatapku. Aku bisa melihat kejujuran terpancar dari mata bulatnya yang indah.

Perlahan Lilis menciumku dengan segenap jiwanya. Aku membalas lumatan bibirnya. Kami berciuman melepaskan kerinduah setelah beberapa hari kami tidak bertemu.

"Perlahan aku membalikkan Lilis agar celentang, aku takut kalau terlalu lama tengkurap akan mempengaruhi kesehatan bayi yang dikandung Lilis.

" Lilis pengen?" tanganku membelai perutnya yang sudah semakin membesar. Tapi tidak mengurangi keindahan tubuhnya.

"Kan sekarang jatah, Ningsih." Lilis mencubit pipiku dengan gemas.

"Tadi A Ujang udah bilang ke Ningsih, kalau sudah beres A Ujang tidur sama Ningsih." tanpa menunggu aku membelai dada Lilis yang terlihat semakin membesar dan terasa lebih keras. Aku mencium bibir Lilis dengan mesra. Kecurigaanku yang sempat ada ke Lilis sekarang sudah sirna.

Aku bangun dan membantu Lilis membuka baju tidurnya yang berwarna putih. Aku berusaha selembut mungkin menelanjangi calon istriku ini. Tubuh bugil Lilis selalu membuatku takjub, kulitnya yang putih dan halus, seutuhnya menjadi milikku.

Lilis tidak mau ketinggalan menelanjangiku. Lidahnya menggelitik puting dadaku dan tangannya membelai kontolku dengan lembut, membuat kontolku menegang sempurna.

Lilis mendorongku terlentang, tangannya meraih kontolku yang dalam sekejap sudah berada di kehangatan mulutnya. Lidahnya menggelitik kepala kontolku, memberikan rasa nikmat yang indah.

"Kontol A Ujang belom dicucu ya, abis ngentot Ningsih?" Lilis menatapku sayu. Bibirnya kembali melahap kontolku seolah sisa lendir memek Ningsih bukan hal yang menjijikan.

Aku menggeliat tidak tahan. Perlahan aku mendorong kepala Lilis menjauh dari kontolku. Lalu aku menyuruhnya terlentang.

Dada indahnya mengundangku untuk hinggap dan menyusu di putingnya yang berwarna pink. Sayangnya payudara Lilis belum mengeluarkan ASI seperti Marni, tapi tetap menyenangkan menyusu di payudara Lilis yang berukuran sedang.

"Aa, enak...!" Lilis membelai kepalaku seperti seorang ibu yang membelai kepala anaknya yang sedang menyusu.

Aku bergerak ke arah selangkangan Lilis yang langsung mengangkang mempersilahkanku menikmati keindahan memeknya yang akan segera melahirkan anakku. Aroma memek Lilis yang sangat aku suka. Jembutnya sekarang selalu tercukur sehingga aku bisa menikmatinya lebih nyaman tanpa mengenai bulu jembut yang kasar.

Lidahku dengan leluasa mempermainkan itilnya yang agak menonjol dan ternyata lobang memek Lilis sudah basah.

"Udah, A...entot Lilis sekarang.!"Lilis menarikku naik ke atas tubuh indahnya. Tangannya menuntun kontolku ke lobang memek yang sudah menunggu pasanganya dengan tidak sabar. Perlahan, kontolku masuk bagian terdalam Lilis yang memeluk.

"Ennak, A..." Lilis mengabgkat pinggulnya menyambutku. Bibirnya mencumbu bibirku dengan mesra.

Tiba tiba suara bel pintu terdengar tidak berhenti. Seseorang yang memencetnya seperti tidak sabar ingin segera dibukakan pintu.

"Siapa sich malam malam ganggu orang saja." kataku jengkel.

"Buka dulu, A. Mungkin penting." Lilis mendorongku pelan. Wajahnya terlihat jengkel sama seperti diriku.

Dengan malas aku bangun, tergesa gesa memakai pakaian karena suara bel terus berbunyi. Setengah berlari aku menuju pintu ruang gamu dan membukanya.

"Ambu,...!" ujarku kaget melihat mertuaku datang jam 11 malam dan tanpa memberi kabar membuatku was was.

Bersambung

No comments for "Ritual Gunung Kemukus Season II ~ Menuju Puncak (Chapter 11 : Shomad)"