Ritual Gunung Kemukus Season II ~ Menuju Puncak (Chapter 18 : Berburu Emas)
Model : Miss rhena quenze
Aku kecewa karena tato ini tidak menyebutkan suatu tempat, tapi sebuah nama. Apa hubungannya dengan orang yang ditulis namanya di sini? Apa hubungannya dengan emas yang dibawa lari Codet. Atau tidak ada hubungannya sama sekali.
"Aa liat tato di kuping Kak Rani ya?" tabya Rini mengejutkanku. Ternyata dia memperhatikan gerak gerikku yang mungkin mencurigakan.
"Orang itu yang tahu di mana emas itu disimpan." Rini menjelaskan. Dia bisa menebak tujuanku, berarti dia benar benar tahu tentang emas itu.
"Rini tahu tentang emas itu?" tanyaku. Mengorek keterangan bukanlah kemampuanku.
"Ayah pernah cerita tentang emas yang tersimpan di suatu tempat. Tapi ayah tidak menerangkan di mana. Katanya untuk keselamatan kami." aku berusaha mendengar dengan teliti, mencari petunjuk yang mungkin tanpa sadar keluar dari bibirnya. Bahkan sampai kata terahirnya aku belum bisa mengambil sebuah kesimpulan.
"Kalau kami tahu tempat emas itu disembunyikan, kami akan dibunuh. Itu sebabnya ayah tidak pernah memberi tahu kami." Rini mengahiri ceritanya dan kembali memelukku. Bibirnya kembali melumatku dengan bernafsu sehingga dadanya yang besar menempel hangat.
Kubiarkan Rini mencumbu bibirku dengan nafsunya yang besar, mungkin itu bisa menimbulkan kepercayaannya kepadaku sehingga dia mau membantuku menemukan emas yang tersimpan entah di mana.
"Berapa usiamu?" tanyaku sesaat setelah bibir kami terpisah. Gadis ini sangat manja dan lebih agresif dibandingkan kakaknya.
"16 tahun. Pas waktu A Ujang merawanin Rini bertepatan dengan ulang tahun Rini." Rini tersenyum menggodaku. Tangannya membelai kontolku yang setengah tertidur sehabis pertempuran tadi.
"Kamu bisa bantu aku menemukan emas itu sebelum orang itu menemukannya? Kalau orang itu menemukannya lebih dulu, nyawa kita semua yang berkaitan dengan emas akan dibunuhnya." aku coba merayu Rini untuk mendapatkan emas itu. Mungkin benar yang dikatakan Lilis, kalau Shomad menemukan emas itu, maka dia mempunyai dana untuk membangun sebuah kartel mafia yang lebih besar. Maka nyawa kami semua akan terancam.
"Ayah memang benar menyuruh kami menemui A Ujang, kami tidak tahu alasannya. Tapi sebelum kami bertemu A Ujang, Mamahnya Ratna lebih dulu menemui kami dan menyuruh kami menyerahkan surat ke Pak Karta. Kami tidak tahu isi surat itu." Rini berusaha mengalihkan pembicaraan tentang emas.
"Itu kan sudah kalian ceritakan. Sekarang kita harus fokus menemukan emas itu." kataku, tidak mau perhatianku teralih.
"Kami tidak tahu di mana emas itu. Bahkan tato yang kami buat itu atas perintah ayah agar kami tidak keceplosan bicara saat seseorang memaksa kami." Rini terlihat kesal karena aku mulai mendesaknya.
"Bagaimana kalian tidak akan keceplosan bicara ? Bisa saja kalian menunjukkan tato kalian ke orang yang mengancam atau menyiksa kalian." kataku mencoba beragumentasi. Hatiku bersorak kegirangan karena bisa bicara lancar.
"Kami ke sini karena menurut ayah cuma A Ujang yang bisa membantu kami menemukan emas itu. Ayah juga menyuruh kami memperlihatkan tato yang kami miliki. Karena ini hanya sebuah petunjuk yang harus bisa dipecahkan." Rini terlihat tersinggung. Nada suaranya terdengar meninggi.
"Tapi kalian..." aku kehabisan kata melihat raut wajah Rini yang terlihat marah dan suaranya yang nyaring membangunkan Rani.
"Ada apa, ini?" Rani memandangi kami bergantian dengan mimik wajah bingung.
"A Ujang tidak percaya kita tidak tahu menahu tentang emas itu." Rini menurunkan nada suaranya yang sempat meninggi.
Rani menatapku dengan wajah tenang. Kembali dia memperlihatkan tato angka yang berada di bagian bawah payudaranya sehingga tidak akan terlihat tanpa menaikkan payudaranya ke atas. Sekali lagi aku hanya melihat deretan angka yang menurutku tidak bermakna katena tidak mengetahui artinya. Tapi bagi orang yang mengerti, bisa jadi deretan angka itu sangat berarti.
Aku hampir putus asa, misi pertamaku hampir gagal total. Satu satunya petunjuk yang jelas hanyalah sebuah nama yang tertulis di belakang telinga Rani
Aku melihat Rini yang duduk memperhatikan gerak gerikku yang terlihat gelisah. Aku memperhatikan payudaranya yang ranum dan besar. Seperti mengerti apa yang kumau, Rini menekan payudaranya ke atas sehingga aku bisa melihat deretan angka di tempat yang sama seperti yang dimiliki Rani. Tapi dengan susunan angka yang berbeda.
"Sedang tato dibelakang kuping Xxxxx, Rani tidak tahu itu nama siapa. Di belakang kuping Rini juga ada." Rani menjelaskan.
Aku menoleh ke arah Rini yang asik mendengarkan pembicaraan kami. Pembicaraan yang membuat aku berpikir keraa. Aku tidak mau misi pertamaku gagal dan dikatain TOLOL atau BLOON oleh Lilis karena gagal.
"Ini.?" Rinj membelakangiku dan memperlihatkan tato yang bertuliskan Xxxxxx. Bukankah itu nama daerah yang berada di Gunung Kemukus.
Berarti petunjuk ini secara tidak langsung menunjukan tempat keberadaan ayahku. Dan artinya emas yang dimaksud sudah kudapatkan atau sudah kutemukan. Berarti ayahku tahu di mana emas itu berada. Sepertinya begitu.
"Boleh aku lihat tato di payudara kalian?" bisa saja tato itu nomer kombinasi brankasku.10 1 12 15., benar, di payudara Rini angkanya sama dengan kombinasi brankasku.
*†****
Aku pulang pagi harinya dengan hati kecewa karena hasil yang aku dapatkan jauh dari yang aku inginkan. Semuanya kembali ke satu titik yang sudah aku ketahui dengan jelas.
Lilis tersenyum melihatku wajahku yang tegang dan pakaianku yang kusut sehabis pertarungan melawan para penyerang gelap dan juga pertempuran nikmat semalaman dengan dua gadis cantik yang liar.
"Gagal?" itu perkataan pertama yang keluar dari bibir tipisnya yang dalam keadaan normal akan membuatku tergoda menciumnya.
"Ambu hari ini mau pulang, A Ujang mandi dulu biar seger." Lilis tersenyum. Senyum yang menohok hatiku dan seperti sebuah senyum sinis yang melecehkan ketidak mampuanku. Atau mungkin perasaanku saja.
Hatiku agak terhibur melihat Ningsih datang mencium tanganku lalu mengandeng tanganku masuk ke dalam.
"Mandi dulu, A. Ambu mau pulang." Ningsih tersenyum, senyum terindah yang membuatku bisa melupakan apa yang aku alami. Aku mengikuti Ningsih ke kamar mandi, sementara Ningsih mengambil handuk bersih.
Badanku terasa segar sehabis mandi. Aku ke ruang keluar, ternyata semuanya sudah berkumpul menungguku. Ibu dan Mang Udin juga sudah ada. Mungkin kabar Ambu yang akan pulang sudah diketahui oleh Ibu. Yang aku heran kenapa Mang Udin memaksakan diri untuk datang. Bukankah lukanya masih belum pulih sama sekali.
"Mang Udin sudah mendingan sakitnya?" tanyaku hawatir, entah kenapa aku sangat menghawatirkan Mang Udin? Mungkin karena aku berharap Mang Udin bisa membahagiakan ibuku setelah penderitaan selama puluhan tahun.
"Sudah mendingan, Jang." Mang Udin tertawa melihat kehawatiranku yang dianggapnya berlebihan.
Tadinya aku mau mengantar Ambu sampai Garut, tapi Ambu bersikeras mau pulang sendiri dan akan datang kembali bersama Abah saat mendekati kelahiran Lilis dan Ningsih. Ahirnya aku mengalah dan mengantar Ambu sampai Terminal Bis yang tidak terlalu jauh dari rumah. Aku menunggu bis yang ditumpangi Ambu berangkat. Setelah bis berangkat, aku segera berjalan meninggalkan terminal menuju tempat parkir motor.
"Jang..!" suara wanita memanggilku dari arah belakang. Suara yang sangat aku kenal.
"Mbak Wati, dari mana?" tanyaku heran melihat Mbak Wati berjalan cepat menyusulku. Lucu melihat Mba Wati berjalan begitu, dadanya terlihat bergoyang goyang. Apa mungkin dia tidak memakai Bra? Tapi kan gak mungkin Mbak Wati keluar rumah tanpa Bra.
"Dari Bekasi ke rumah saudara. Kamu sendiri dari mana?" Mbak Wati menjawab dengan nafas terengah engah. Dengan memakai jilbab, Mbak Wati terlihat lebih cantik.
"Nganter Ambu ke terminal." jawabku. Setelah basa basi ala kadarnya, aku mengajak Mbak Wati pulang bareng.
"Wah hebat, kamu sudah punya motor." kata Mbak Wati membuatku jengah.
Aku membonceng Mbak Wati yang memeluk pinggangku dengan erat sehingga payudara montoknya menekan punggungku. Tiba tiba aku teringat dengan sobekan kertas Diary almarhum. Bukankah Pak Budi mengajak Mbak Wati mencari ayahku Gobang dan juga mengikuti Japra hingga Gemolong, sama denga tulisan tato di belakang telinga Rini. Betapa bodohnya aku, kenapa baru terpikir sekarang.
"Mbak, kita nyari tempat dulu, yuk ! Ada yang mau saya tanyakan." kataku dengan suara keras agar terdengar.
"Ngobrol nya di rumah aja. Sekalian sama Mas Gatot." Mbak Wati berkata kencang mengimbangi suara mesin motor.
Aku mengangguk setuju, Mas Gatot pasti tahu banyak. Bukankah dia menerima banyak uang dengan jumlah besar. Itu artibya dia tahu banyak. Kenapa sejak awal aku tidak berpikir seperti itu. Kenapa pikiranku muter muter gak jelas.
Sesampainya di rumah Mbak Wati, kulihat Mas Gatot sedang asik membaca majalah yang berbau mistik. Majalah yang sampulnya membuatku merinding ngeri.
"Masuk Jang," Mas Gatot merangkulku. Dia selalu senang melihat kehadiranku sesama mantan penjual mie ayam. Bekas teman seperjuangan menaklukan kota Bogor. Atau lebih tepatnya sebagai seorang pengidap kelaianan jiwa yang merasa puas melihat istrinya disetubuhi pria lain.
Perubahan hidup mereka sangat pesat. Terahir aku berkunjung ke sini belum ada kursi di ruang tamu. Sekarang aku melihat sofa tamu yang terlihat masih baru. Dari mana mereka mendapatkan uang yang merubah perekonomian mereka hanya dalam waktu relatif singkat.
Saat aku akan duduk di ruang tamu, Mas Gatot malah menarikku masuk ke ruangan tengah. Sebuah kursi empuk yang bisa diduduki beberapa orang menghadap ke TV besar lengkap dengan sound system membuatku semakin terpesona oleh kehidupan mereka dalam waktu singkat.
Aku menghempaskan pantatku di sofa empuk yang terasa nyaman. Tidak lama Mbak Wati membawakan kopi hitam kesukaanku. Kopi has kebanggaan orang Bogor. Mbak Wati duduk di sampingku sedangkan Mas Gatot duduk di kursi yang hanya cukup untuk satu orang yang terpisah oleh sebuah meja kecil.
"Mbak Wati tahu siapa orang yang dicari oleh almarhum Pak Budi di Gunung Kemukus?" aku bertanya tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Aku harus bergerak cepat jangan sampai didahului oleh musuh yang tidak terlihat. Musuh yang bersembunyi dalam kegelapan.
"Kok nanya begitu kamu cemburu ya?" jawaban yang gak nyambung. Tangan Mbak Wati justru mengelus selangkanganku, menggoda kontolku yang tertidur pulas. Aku melihat Mas Gatot yang menahan nafas melihat aksi istrinya yang kurang ajar.
"Aku serius, Mbak!" aku memindahkan tangan Mbak Wati dengan halus agar tidak menyinggungnya.
"Ich, kamu simbong amat. Mentang mentang punya istri cantik." Mbak Wati mencubit pahaku dengan gemas.
"Jawab dulu, Mbak..!" aku memegang tangan Mbak Wati agar tidak gerayangan seperti tadi.
"Gak mau, nanti seperti waktu itu, udah dukasih tau, kamu malah ninggalin Mbak gitu aja. Mana memek Mbak udah senut senut." Mbak Wati ngeyel, tanpa basa basi dia memelukku dan mencium bibirku dengan ganas.
Aku gelagapan mendapat serangan mendadak dari Mbak Wati. Aku sempat melihat Mas Gatot menggeser meja yang berada di hadapan kami agar menjauh dan tidak menghalangi aksi Mbak Wati yang liar.
Ahirnya aku menyerah, gairahku mulai terpancing dan mulai membalas ciuman Mbak Wati dengan bernafsu. Mendapat respon dariku, Mbak Wati naik ke pangkuanku dan kembali mencium bibirku dengan bernafsu. Aku meremas pantatnya yang montok dengan gemas.
"Mbak, aku buka baju dulu nanti kusut." kataku. Kemeja yang aku kenakan sangat mudah kusut, apa lagi wangi parfum Mbak Wati kalau menenpel pada bajuku akan menambah masalahku yang sudah bertumpuk.
Mbak Wati tertawa senang karena bisa menaklukanku kali ini. Dia turun dari pangkuanku dan membantuku melepas kemeja dan juga celanaku hingga bugil. Mas Gatot mengambil bajuku dan mengantungnya agar tidak kusut. Suami gila, pikirku. Dia begitu bergairah melihat istrinya akan disetubuhi pria lain.
Mbak Wati segera membuka baju muslimya termasuk jilbab yang membuatnya menjadi semakin cantik. Walau tubuh Mbak Wati mulai gemuk, tetap saja mampu membangkitkan nafsuku. Apa lagi dia wanita pertama yang meregut keperjakaanku. Wanita pertama yang memperkenalkanku dengan kenikmatan sex.
Mbak Wati berjongkok di selangkanganku yang duduk santai. Tanpa meminta ijin Mbak Wati meraih kontolku yang mulai bangun dari tidurnya, wajahnya menoleh ke arah Mas Gatot sambil menjilat kontolku. Reflek aku ikutan menoleh melihat Mas Gatot yang menelan ludah melihat aksi istrinya yang binal menjilati kontolku.
Perlahan Mbak Wati memasukkan kontolku kedalam mulutnya, matanya tak perna lepas dari suaminya yang blingsatan menahan gairahnya. Mbak Wati mulai mengocok kontolku dengan mulutnya, berkonsentrasi penuh tanpa menghiraukan kehadiran suaminya yang menonton tanpa berkedip.
"Mbak, gantian aku pengen jilatin memek Mbak. Kangen banget sama bau memek pertama yang aku entot." aku menarik Mbak Wati bangun dan kusuruh duduk menyender. Pahanya terbuka lebar memperlihatkan memeknya yang hitam dan tembem.
Aku berjongkok menghadap ke arah memek Mbak, perlahan aku menjilatiny beberapa kali membuat Mbak Wati merintih keenakan.
"Mbak tau siapa yang dicari Pak Budi?" tanyaku sambil terus menjilati memeknya dengan buas.
"Gobang..!" Pak Budi yang menjawab. Benar dugaanku dia tahu banyak.
"Lalu kenapa harus ngajak saya ke Gunung Kemukus?" tanyaku heran. Aku berhenti menjilati memek Mbak Wati, perlahan kontolku mengarah ke belahan memek Mbak Wati yang menatap sayu ke arah kontolku yang sudah menegang sempurna. Aku menggerakkan kontolku naik turun menyusuri memek Mbak Wati tanpa memasukkannya.
"Masukin Jang, Mbak gak tahan..!" Mbak Wati merintih memohon agar aku segera memasukan kontolku ke lobang memeknya yang sangat basah.
"Buat mancing Gobang keluar dari persembunyian. Buruan Jang, entot istriku." kata Mas Gatot tidak sabar, dia mendorong pantatku sehingga kontolku amblas di dalam memek istrinya dengan mudah diiringi rintihan nikmat Mbak Wati saat kontolku menerobos memeknya.
"Gila, kontolmu ennnak banget..!" Mbak Wati terpejam menikmati kehadiran kontolku dalam jepitan memeknya. Memek pertama yang aku masuki. Memek pertama yang berkenalan dengan kpntolku.
Aku begitu hafal dengan keinginan Mbak Wati juga keinginan Mas Gatot melihat istrinya dientot dengan keras walau tidak kasar. Aku tau Mas Gatot sangat menikmati tontonan yang tersaji di depannya, melihat istrinya menggelinjang nikmat oleh sodokan demi sodokan kontolku yang bertenaga. Melihat tanganku saat meremas payudara istrinya yang montok.
"Mbak ketemu sama Gobang gak?" tanyaku menatap Mbak Wati yang sangat menikmati sodokan kontolku.
"Nanti Mbak cerita.... Mbak kelllluarrrrr...!" aku melihat Mbak Wati mengejang menyambut orgasme pertamannya. Nafasnya tersengal sengal merasakan puncak dunia yang hanya dapat diperoleh saat sedang bersetubuh.
Aku justru semakin mempercepat kocokanku di memeknya. Mas Gatot terlihat sudah bugil sambil mengocok kontolnya. Rupanha mas Gatot mulai terangsang melihat istrinya menikmati kocokan kontolku.
Hingga ahirnya akupun meraih orgasmeku setelah bertahan lama tanpa merubah posisi, entah berapa kali Mbak Wati mendapatkan orgasmenya.
"Mbak....aku kelllluarrrrr..!" aku membenamkan kontolku hingga dasar memek Mbak Wati dan menyemburkan pejuh ke dalamnya.
"Mbak juga kelllluarrrrr lagi...!" Mbak Wati menari tubuhku dalam pelukannya yang erat. Setelah pelukan Mbak Wati mengendor, aku segera mencabut kontolku dari memeknya yang terbuka, dari dalambya mengalir cairan pejuhku.
Tanpa merasa jijik dengan cairan pejuhku yang keluar dari memek istrinya, Mas Gatot malah memasukan kontolnya ke dalam memek istrinya dan langsung menggenjotnya dengan cepat. Dengan sabar aku menunggu suami istri itu bersetubuh sambil ngopi dan merokok. Tidak sampai 5 menit Mas Gatot mendapatkan orgasmenya.
Aku memakai pakaiaku lagi setelah mencuci kontolku yang belepotan lendir memek Mbak Wati. Mas Gatot dan Mbak Wati duduk berpelukan masih dalam keadaan bugil. Mereka terlihat sangat menikmati apa yang telah kami lakukan.
"Waktu Mbak dan Pak Budi mau pulang, Mbak bertemu dengan anak buah Gobang yang kami ikuti sampai Gemolong. Dia yang bilang bahwa Pak Budi ditipu Codet. Codet yang membawa sebagian besar emas rampokan. Kami di bawa kembali ke Gunung Kemukus tanpa sepengetahuan kalian. Kami bertemu Kang Gobang, kami juga diperlihatkan brankas berisi emas. Pak Budi mendapatkan 2 batangan emas, sedang Mbak cuma dapat perhiasan kalung, anting dan juga gelang yang sekarang Mbak pakai." Mbak Wati mengahiri ceritanya.
Setelah mendengar apa yang mereka katakan, Ahirnya aku pulang. Aku percaya mereka tidak terlibat terlalu jauh. Aku memacu motor dengan cepat agar secepatnya sampai rumah. Aku harus menceritakan senua informasi yang aku dapat, mungkin Lilis bisa mendapatkan petunjuk di situ.
Sampai rumah aku melihat ada beberapa orang duduk di teras depan rumah. Tampabg mereka sangar dan aku tidak mengenal mereka. Sementara pintu rumah terbuka dab aku melihat ada dua orang yang berdiri sehingga menghalangi pandanganku siapa orang yang duduk di kursi.
Bersambung

ููุณุช ููุงู ุชุนูููุงุช for "Ritual Gunung Kemukus Season II ~ Menuju Puncak (Chapter 18 : Berburu Emas)"
ุฅุฑุณุงู ุชุนููู